Sabtu, 26 Oktober 2013

Hutan kota oksigen kita


Saat tiba di sebuah tempat yang disebut dengan Hutan Kota BNI, Banda Aceh, gampong Tibang, matahari siang begitu menyengat, waktu menunjukkan pukul 14.10 WIB.  Sebelum memasuki hutan kota, para pengunjung memarkir sepeda motor dan membayar uang parkiran sebesar Rp.2.000,-. Waktu berkunjung di hutan kota pun sudah ditentukan, yaitu pukul 09.00 WIB-18.00 WIB.

Saat memasuki hutan kota, para pengunjung melintasi sebuah jembatan untuk menuju halamannya. Dan area pertama sekali yang akan dilihat setelah menyeberangi jembatan tersebut yaitu sebuah tembok dengan papan yang bertuliskan informasi tentang  setiap nama dan jenis tumbuhan yang ada di hutan kota dan jalan setapak di samping kanan pengunjung. Tembok itu disebut dengan pilar informasi.

Kemudian di sebelah kanan pengunjung, ada sebuah lapangan basket yang juga merangkap sebagai lapangan footsal. Warna lapangannya yang hijau bersatu dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Dan itu merupakan lapangan satu-satunya yang ada di hutan kota. Lapangan tersebut ramai pada saat sore hari.

Di samping kiri pengunjung juga terdapat sebuah jalan yang tak beraspal, hanya tanah liat yang berbatu untuk menuju pilar informasi yang kedua. Setelah selesai melihat-lihat pilar kedua tersebut, pengunjung juga akan melihat dua buah tumbuhan yang berbentuk lorong. Tanaman itu bernama Lamtana.

Tepat di sebelah Lamtana, ada taman melati yang ditata rapi oleh para pengelola hutan kota tersebut. Dan juga di depan taman tersebut ada sebuah bangunan, yaitu perpustakaan anak dan kantor pengelola yang digabung menjadi satu. Di depan perpustakaan dan kantor pengelola juga terdapat makam yang tak diketahui namanya yang dijadikan makam sejarah. Pada pampletnya bertuliskan “Makam Bersejarah, Hormati sejarah Kita”.

Lalu, di sebelah perpustakaan anak dan kantor pengelola terdapat sebuah taman yang menjadi tempat pembibitan tanaman-tanaman hutan kota. Dan di sebelah kiri pengunjung, agak sedikit masuk kedalam terdapat dua buah toilet. Jalan untuk menju toilet tersebut ditutupi oleh kerikil-kerikil. Lalu kita kembali melanjutkan perjalanan menelusuri hutan kota yang telah ada sejak maret 2010 ini.

Setelah jalanan yang dilalui sebelumnya telah disemen, para pengunjung selanjutnya dapat berjalan di jalanan yang belum bersemen tapi dihiasi oleh kerikil-kerikil yang menutupi tanah. Dan jalan tersebut membawa kita menuju sebuah jembatan, yang dinamai dengan “jembatan tajuk pohon”. Sebelum sampai jembatan tajuk pohon itu, kita akan kembali menemukan pilar informasi yang terletak di tikungan jalan. Dan itu merupakan pilar informasi yang ketiga.

Jembatannya didesain menanjak dan terbuat dai kayu. Sebelum melalui jembatan tersebut ada tulisan yang berbunyi “nikmati dengan hati-hati”. Di ujung jembatan yang terbuat dari kayu tersebut, kembali kita akan menemukan pilar informasi yang keempat. Terdapat juga beberapa alat permanian, seperti ayunan, seluncuran, dan juga sebuah troler. Ada juga sebuah kolam ikan yang terletak di samping taman bermain tersebut.

Selang beberapa jarak dari jembatan tajuk pohon, kita kembali menelusuri jembatan yang diberi nama “jembatan tambak bakau” yang merupakan jembatan penghubung antara tambak dan daratan. Tambak yang dihiasi dengan tanaman bakau tersebut juga dihiasi oleh ikan-ikan kecil, dan  juga ada tulisan peringatan yang sama dengan bunyi peringatan saat kita melintasi jembatan tajuk pohon tersebut.

Perjalanan menelusuri hutan kota ini luasnya berkisar 8.5 hektar. Saat perjalanan, kita kembali menemukan sebuah kolam ikan, dan juga menemukan pilar informasi yang kelima. Dan hingga akhirnya kita akan menemukan ujung dari jalan setapak yang telah kita lalui itu. Dimana ujung tersebut kembali menghubungkan kita pada jalan saat awal masuk ke taman hutan kota ini.

Beberapa pengunjung yang masih penasaran akhirnya membaranikan diri untuk bertanya. Mereka menyapa lelaki tua yang sedang menyiram tanaman, ia berumur 60 tahun. Dan merekapu langsung menanyakan beberapa pertanyaan tentang hutan kota ini. “Apa fungsi didirikannya hutan kota ini?”Tanya seorang pengunjung bernama Fitri. “Kalian dari mahasiswa bisa melakukan penelitian kesini, dan bisa diskusi segala macam, iya kan!”Jawab lelaki tersebut yang akrab disapa pak Ama, Abdul Muthalib Ahmad. “Dan fungsi yang paling pentingnya lagi hutan ini sebagai paru-paru kota. Karena setiap kita butuh dua pohon untuk memberikan oksigen kepada kita,”sambungnya.

Berbagai pertanyaan pun ditanyakan, mulai dari kapan adanya pohon yang ditanami oleh ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, harapan ke depan untuk hutan kota, dan lain sebagainya. Pohon trembesi yang ditanam pada 29 november 2010 oleh ibu Ani tersebut pada saat peresmian jambore nasional di Saree. Ternyata pohon tersebut ditanam bukan pada saat peresmian hutan kota melainkan pada saat beliau datang berkunjung untuk peresmian jamboree nasional di Saree.

Pada saat ditanyai tentang makan yang terlihat tadi, pak Ama sendiri tidak tahu itu makam siapa. Dia hanya menjelaskan mengapa makam itu ada. “Sejarahnya orang Aceh itu adalah orang berperang, jadi dari kawasan ini sampai syiah kuala makam semua,”katanya. “Saya sudah tanya ke orang museum aceh, merekapun tak tahu. Tapi dilihat dari bentuk makamnya, ini ciri khas pejuang orang bangsawan atau para ulama-ulama atau keluarga-keluarganya. Itu menurut analisa saya,”lanjutnya.

Analisanya tersebut tentu saja diperkuat dengan adanya tulisan arab turki di batu nisan ketiga makam tersebut. Pak Ama juga menjelaskan bahwa syarat hutan kota itu harus memiliki 16 jenis pohon, dan hutan kota sudah melebihi batasnya. Hutan kota memiliki 145 jenis, diantaranya ada jenis pohon dataran tinggi, ada pohon yang mendatangkan burung ke sini, ada pohon obat, ada pohon yang langka-langka. Semua jenis pohon itu mereka dapatkan dari hasil pencarian dan mereka beli bibitnya.

“Apakah pohon tersebut bisa beradaptasi ke daerah sini pak?”tanya pengunjung lainnya, Rahmi. “tentu saja bisa, tapi jangan spontanitas adaptasinya. Ada beberapa pohon yang belum, seperti rambutan, durian, langsat itu belum bisa tumbuh di sini,”jelasnya. Mereka juga bertanya tentang nama-nama pohon yang aneh yang terlihat pada saat perjalanan tadi, seperti “janda merana”. Lelaki separuh baya itu hanya berkata bahwa itu memang sudah ada namanya.

Pengelola berharap,“nanti ke depan hutan ini harus hidup mandiri, untuk membiayai perawatan hutan ini. Kalau hanya berharap dari Bank BNI saja tidak akan cukup dananya”, ujar pak Ama. Tak lupa mereka menanyakan tentang sanksi bagi para pemetik bunga, buah, dan tumbuh-tumbahan di situ. Kata pak Ama, mantan pegawai di kantor walikota,”itu tidak boleh dipetik, seharusnya mereka membantu kami untuk melestarikan tumbuhan-tumbuhan yang ada di sini.”

Para pekerja di hutan kota hanya berjumlah 10 orang. Lokasi hutan kota yang terletak di tengah kota ini, merupakan lahan dari hasil pembebasan oleh pihak CSR. Tempat yang dulunya merupakan tambak ikan tradisional, kini disulap menjadi sebuah hutan kota yang ditumbuhi dengan berbagai jenis tumbuhan oleh para pengelola tempat tersebut. Pada awalnya, penimbunan tambak ini bukan untuk dijadikan lahan tumbuh-tumbuhan (hutan kota) melainkan untuk lahan olahraga, terutama badminton.

Kini hutan kota tak hanya sebagai tempat penghasil oksigen bagi paru-paru kota, tetapi sudah multifungsi. Dan kini orang-orang pun ramai yang berkunjung ke tempat tersebut. Kunjungan tersebut dengan berbagai variasi, ada yang hanya sekedar jalan-jalan, ada yang berolahraga, ada untuk penelitian, dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar