Rabu, 23 November 2011

MAKALAH ETIKA KOMUNIKASI

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Kata etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control“, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok itu sendiri. Dalam etika juga terdapat aliran-aliran atau juga disebut dengan isme. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa isme dalam etika. 2. Rumusan Masalah Adapun makalah ini berupaya membahas beberapa pokok bahasan, yaitu; Apa-apa saja isme dalam etika? 3. Tujuan Bahasan Adapun tujuan penulis dalam menuliskan makalah ini yaitu agar pembaca mengerti dan tahu akan isme-isme dalam etika, tidak hanya satu atau dua, akan tetapi banyak. BAB II BEBERAPA ISME DALAM ETIKA Kata etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Dalam etika pun terdapat aliran-aliran (isme). Isme-isme dalam etika tersebut, yaitu: 1. Aksiologisme Aksio berasal dari kata Yunani axios yang berarti bernilai, berharga dan logos yang berarti gagasan, pikiran atau kata yang mengungkapkan gagasan dan pikiran itu. Aksiologisme adalah sistem etika yang menilai baik buruknya perbuatan dari segi bernilai dan tak bernilainya maka disebut juga Etika aksiologis, axiological ethics. Dalam praktek bernilainya perbuatan ditetapkan berdasarakan tujuan, maksud, dan motif orang yang melakukannya. Dalam bahasa yunani kata untuk tujuan maksud adalah telos. Oleh karena itu etika aksiologis juga disebut etika teologis, teological. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Max Scheler, salah seorang tokoh aksiologisme seorang filsuf Jerman. Max Scheler menulis sebuah buku yang paling penting tentang etika nilai ini, yang berjudul Formalisme dalam Etika dan Etika Nilai Material. Ia membagi empat aspek nilai : • Nilai pertama adalah nilai tentang tidak nikmat atau nikmat dan nilai ini berhubungan dengan kenikmatan yang didapat dari kenikmatan indrawi. • Nilai kedua adalah nilai vital yang berhubungan dengan kondisi kesehatan manusia juga menyangkut kebesaran hati dan keberaniannya • Nilai ketiga dinamakan nilai rohani yang berhubungan dengan sikap kita terhadap keadilan dan estetika. • Nilai keempat, Schler menyebutnya nilai objek absolut yang berhubungan dengan sesuatu yang dianggap kudus. Jenis-jenis Nilai: Nilai Budaya, Nilai Sosial, Nilai Religius, Nilai Moral, Nilai Intrinsik. 2. Altruisme Para pakar moral dan pemikir etika menemukan bahwa dalam hubungan antarmanusia ada benih sikap hidup dan perilaku yang baik. Benih sikap itu mereka namai altruisme. Akar kata altruisme adalah kata Latin alter. Menurut kamus, alter berarti lain. Altruisme adalah pandangan dan sikap hidup yang menaruh perhatian pada kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagian orang lain. Dari sikap itu lahirlah hidup dan tindakan dan perbuatan yang memperhitungkan unsur kepentingan dan kebaikan orang lain. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan. 3. Anarkisme Anarkisme bersal dari kata Yunani yang berarti tidak.’tanpa, bukan’, dan anarkon yang berarti ’penguasa, raja, pemimpin’. Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Sebagai pandangan dan pendiri etis, anarkisme tidak selruhnya salah. Sadar tidak sadar, memang ada usaha penguasa untuk menciptakan nilai, membuat norma dan hukum, dan merumuskan kriteria etis, bukan seluruhnya demi kebaikan orang, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok, tetapi demi kepentingan, kebaikan, dan keuntungan diri. Namun dari penyelewengan itu tidak dapat dibuat kesimpulan bahwa nilai, norma, dan kriteria etis itu tidak ada, sebagaimana pendirian kaum anarkis etis. 4. Anomianisme Manusia disamping menjual kebolehan, manusia sebenarnya membutuhkan tata tertib, peraturan, hukum dalam kehidupan bersama maupun berbisnis. Tetapi hukum tidak hadir.oleh Emile Durkheim situasi ini disebut sebagai anomia (a berarti tidak. Nomos berarti hukum) manusia yang bermasyarakat tanpa aturan, menganut paham anomianisme. Anomianisme adalah paham atau sikap yang tidak mengindahkan aturan, karen adipengaruhi oleh kumpulan pribadi yang tidak memiliki prinsip, pegangan dan arah hidup. 5. Autentisisme Sikap Autentik Adalah asli, sejati, benar. Karena Autentensisme memiliki akar kata authentikos yang berarti asli, tidak palsu, sejati, tidak campuran, benar, dapat dipercaya. Arti sikap autentik, autentisme, memang jelas ditampakkan oleh perilaku bayi. Akan tetapi, autentisme sejati bukan sekedar menyatakan hal apa adanya, orang autentik tidak berlindung dibawah status, jabatan, keturunan, tetapi tampil dari keadaan dan kekuatan sendiri. Oleh karena itu, mereka hidup menurut prinsip etis. Dan untuk menjadi autentik dan penganut autentisme sejati orang perlu memahami pandangan hidup yang mlatarbelakangi gerakan “ menajdi autetik” itu. 6. Autisme Autisme adalah keadaan atau pendirian hidup yang terlalu menekankan dan berpegang pada keunikan dan kekuasaan diri. Autism berasala dari kata Yunani autos yang berarti” diri sendiri” oleh diri sendiri. Autisme juga dapat merupakan keadaan atau pendirian/ sikap hidup diman orang terserap oleh gagasan, pemikiran, pendirian, kehendak, dan gaya hidup sendiri. 7. Behaviorisme Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwafisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan). 8. Deontologisme Deontologisme adalah pemikiran etis yang menyatakan bahwa baik buruknya tindakan tidak di ukur dari akibat yang di timbulkan, tetapi berdasarkan sifat tertentu dari hasil yang dicapainya. Misalnya : Tindakan bisnis dinilai baik bukan krn mendatangkan keuntungan pada pelaku bisnis, tetapi sejalan dg kewajiban si pelaku bisnis dalam memberikan pelayanan prima kepada semua konsumen.(nilai tindakan iotu bukan ditentukan oleh akibat baik yg diperoleh si pelaku bisnis. Etika deontologi yaitu menekankan pentingnya motivasi, kemauan baik dan watak yg kuat dari para pelaku. 9. Desisionisme Desisionisme (Dezisionismus) adalah pandangan dalam filsafat hukum bahwa setiap hukum berdasarkan pada keputusan-keputusan, yakni keputusan-keputusan yang pada analisis terakhir tidak dapat dikategorikan ke dalam norma-norma hukum kodrat maupun norma-norma hukum positif. Dengan kata lain, keputusan itu “tanpa dasar”, “tanpa metadiskursus”, “tanpa makna asali” dst. Keputusan itu sendirilah “dasar terakhir” dari setiap hukum positif. Keputusan selalu merupakan sebuah “lompatan” (Sprung) yang pada akhirnya tak lain daripada sesuatu yang arbiter(Willkuer). Alasan desisionisme: selalu ada kesenjangan antara norma-norma umum (misalnya hukum kodrat) dan kenyataan konkret, sehingga tanpa keputusan hakim hukum tetap tidak efektif. 10. Deskriptivisme Deskriptivesme merupakan bentuk konvesionalisme yang berlebihan. Yang merupakan antonym dari preskriptivisme yang adalah pandangan etis yang berpendirian bahwa arti kata etis ditentukan oleh sifat-sifatnya, dan berdasarkan sifat-sifat itu arti kata etis ditetapkan penerapannya. 11. Determinisme Determinisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi karena suatu kausa atau berbagai kausa, dan semuanya itu tidak mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda, kecuali jika terjadi perbedaan di dalam kausa-kausanya. Determinisme bermakna bahwa manusia terpaksa dan tidak memiliki kebebasan dalam seluruh aktifitas dan perbuatannya. Penganut awal pemikiran determinisme ini adalah demokritos yang percaya bahwa sebab-akibat menjadi penjelasan bagi semua kejadian. Determinisme bermakna bahwa manusia terpaksa dan tidak memiliki kebebasan dalam seluruh aktifitas dan perbuatannya. Para teolog Asy’ariah (penganut paham Determinisme), sekaitan dengan aktifitas dan perbuatan manusia, berpandangan bahwa manusia terpaksa dalam setiap perbuatannya dan sama sekali tidak memiliki kehendak, ikhitiar dan kebebasan. Mereka menyandarkan seluruh perbuatan manusia itu kepada Tuhan. Karena itu, menurut mereka, manusia laksana benda-benda dan bebatuan yang dilemparkan dari atas jatuh ke bawah dan lintasan gerakan dari atas ke bawah ini dilalui tanpa adanya kebebasan yang dimilikinya dan lintasan tersebut dilalui secara paksa. 12. Developmentalisme Developmentalisme adalah kemistri ideologis antara kepentingan negara industri maju dan kepentingan elite politik negara dunia ketiga. Istilah ini tepat untuk menggambarkan realitas obyektif haluan ekonomi negara dunia ketiga ketimbang neoliberalisme, yang lebih kompleks pengertiannya. Neoliberalisme juga mencerminkan kepentingan sepihak negara industri maju, khususnya Amerika Serikat, dalam mempertahankan hegemoni ekonominya. Mula-mula developmentalisme adalah salah satu teori pembangunan, yang berkembang menjadi ideologi. Demikian tinjauan ulang Tony Smith, pada 1985, setelah teori pembangunan internasional diketahui keberhasilan dan kegagalannya. Ideologi ini timbul dan berkembang menurut versi negara industri maju dan negara dunia ketiga. Developmentalisme merupakan kelanjutan program pemulihan ekonomi dunia ketiga. Motif utamanya adalah membendung pengaruh komunisme di negara dunia ketiga yang cenderung memilih bentuk lain sosialisme. Asumsinya, sumber penyebaran komunisme adalah kemiskinan 13. Dilentantisme Dilentantisme merupakan partisipiun present dari kata italia dilettare, yang berarti senang, karena itu dilentante berarti pengagum atau pencinta seni. Ada juga arti yang lain yang berbau negatf yaitu orang yang berpengertian dangkal di bidang ilmu atau seni 14. Eudemonisme Eudemonisme, Pada Kata ‘eudemonisme’ berasal dari kata yunani ‘eudaimonia’ yang secara harafiah berarti : mempunyai roh pengawal (demon) yang baik, artinya mujur dan beruntung. Kata ini menggambarkan perasaan senang terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan, sebagai akibat pengetahuan mengenai penyelarasan diri. Orang yang telah mencapai tingkatan ‘eudemonia’ mempunyai keinsyafan akan kepuasan yang sempurna tidak hanya jasmani, melainkan juga secara rohani. Pemahaman ini terjelma dalam sistem2 yang telah lanjut perkembangannya, namun juga sebagai keyakinan bahwa manusia hidup di dunia untuk berbahagia. Mereka mencari tujuan hidup pada keadaan2 yang terdapat dalam dirinya sendiri, yang tidak ia kuasai atau hanya sebagian kecil yang dikuasainya. 15. Egoisme Istilah "egoisme" berasal dari bahasa Yunani yakni ego yang berarti "Diri" atau "Saya", dan -isme, yang digunakan untuk menunjukkan filsafat. Dengan demikian, istilah ini etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme. Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah "egois”. 16. Eksistensialisme Eksistensialisme adalah aliran filsafat yg pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendi. 17. Emosionisme Emosionime berasal dari bahasa inggris emotion, yang berarti keterangsangan, ketergugahan, ketergeloraan perasaan. Emosi mencakup segala gejolak dan gelora perasaan beserta perubahan fisiologi badani yang menyertainya. Emosi dapat bersifat positif dan juga negatif. 18. Emotivisme Emontivisme berasal dari bahasa inggris emotive yang berarti berkaitan dengan emosi, kan emmengungkapkan atau membangkitkan emosi. Menerut emotivis fungsi mengungkapkan emosi dan sikap pembicara dan membangkitkannya dalam diri para pendengarnya merupakan unsure utama dalam keseluruhan penilaian etis. 19. Entusiasme Entusiasisme dari bahasa Yunani en berarti dalam dan Teos yang berarti Tuhan. Jadi kata ini menunjuk pada dampak kehadiran Tuhan pada kaum mistik, seniman, filsuf, dukun. Sebagai aliran dalam etika, entusiasme merupakan pemikiran yang berpendapat bahwa untuk menyampaikan penyerahan dan petunjuk-Nya Tuhan member secara langsung ilham, inspirasi, atau perintah pada orang-orang tertentu. 20. Environmentalisme Environmentalisme adalah gerakan sosial yang dimotori kaum penyelamat lingkungan hidup. Gerakan ini berusaha dalam segala cara, tanpa kekerasan, mulai dari aksi jalanan, lobi politik hingga pendidikan publik untuk melindungi kekayaan alam dan ekosistem. Kaum environmentalis peduli pada isu-isu pencemaran air dan udara, kepunahan spesies, gaya hidup rakus energi, ancaman perubahan iklim dan rekayasa genetika pada prodk-produk makanan. Gerakan Environmentalisme yang terjadi saat ini telah bermertamorfosa menjadi Gerakan Antikorporasi dan Gerakan anti globalisasi. Mengapa??? karena Penguasa dan perusak lingkungan terbesar di dunia adalah perusahaan perusahaan transnasional. 21. Epiekianisme Epikianisme berasal dari kata Yunani epiekeia yang berarti masuk akal, layak, mungkin. Epikeia terdiri dari positif dan negative, jika negative yakni sikap untuk membebaskan diri dari beban hokum, dengan menghindarinya. Sementara positif bukanlah usaha untuk mematikan atau mengabaikan hokum, tetapi untuk menjaga keutuhan makna dan kesejatian dalam pelaksanaannya. 22. Epikurianisme Epikuarianisme berasal dari seorang filsuf Yunani yang bernama epikurus. Epikuarisme sebagai suat aliran pemikirn etis yang menetapkan nilai tertinggi yaitu kesenangan secara teoritis sebagai metode penalaran epikuarianisme sudah konsisten: ada tujuan ada prinsip, dan ada tindakan yang perlu diambil dan dihindari secara praksis mendoakan kesenangan iderawi. 23. Empirisme Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. 24. Formalisme Formalisme adalah doktrin atau praktik penekunan yang seksama terhadap bentuk yang bercorak atau bentuk-bentuk eksternal lain. Corak-corak elemen formal adalah garis, bentuk, warna dan sebagainya, yang dapat dikombinasikan untuk memproduksi keseluruhan gaya dan efek. Formalisme tumbuh dari estetika "seni untuk kepentingan seni" (Art for Art’s Sake) di abad ke-19, aktivitas arstistik sebagai akhir dalam tubuhnya sendiri. Para pengikut dari formalisme murni memandang karya seni dengan bebasnya berdasarkan konteks, fungsi dan isinya.Mereka merespon terhadap elemen formal dan efek estetikanya. 25. Hedonisme Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham inilah muncul Nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati". 26. Humanisme Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu. Humanisme modern dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas. Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia. Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekular juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama setempat. 27. Intuisionisme Intuisi berarti ilham, bisikan kalbu. Paham ini berpendapat bahwa penilaian atas baik-buruk, susila dan tidak susila itu dapat diketahui dengan cara intuisi yg merupakan suatu pertimbangan rasa yg timbul dari bisikan kalbu/semacam ilham. Dari segi ilmiah, cara ini sulit dapat dijabarkan, sebab sifatnya seperti spekulatif. 28. Individualisme Individualisme merupakan satu falsafah yang mempunyai pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggungjawab dan kebebasan sendiri. Seorang individualis akan melanjutkan percapaian dan kehendak peribadi. Mereka menentang campur tangan luaran dari masyarakat, negara dan sebarang badan atau kumpulan ke atas pilihan peribadi mereka. Oleh itu, individualisme menentang segala pendapat yang meletakkan matlamat sesuatu kumpulan sebagai lebih penting dari matlamat seseorang individu yang dengan sendiri adalah asas kepada mana-mana badan masyarakat. Pendapat-pendapat yang di tentang termasuklah holisme, kolektivisme dan statisme, antara lain. Falsafah ini juga kurang senang segala standard moral yang dikenakan ke atas seseorang kerana peraturan-peraturan itu menghalang kebebasan seseorang. 29. Idealisme Aliran idealisme dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804) seorang yang berkebangsaan Jerman. Pokok-pokok pandangan idealisme adalah sebagai berikut. a. Wujud yang paling dalam dari kenyataan (hakikat) ialah kerohanian. Seorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan orang lain melainkan atas dasar kemauan sendiri dan rasa kewajiban. Sekalipun diancam dan dicela orang lain, perbuatan baik itu dilakukan juga, karena adanya rasa kewajiban yang bersemi dalam rohani manusia. b. Faktor yang paling penting mempengaruhi manusia adalah “kemauan” yang melahirkan tindakan konkret dan menjadi poko disini adalah “kemauan baik”. c. Dari kemauan yang baik itulah melahirkan kemuliaan-kemuliaan untuk menyempurnakan rasa kewajiban. Menurut aliran ini “kemauan” merupakan faktor terpenting dari wujudnya tindakan-tindakan yang nyata. Oleh karena itu, “kemauan yang baik” menjadi dasar pokok dalam idealisme. Menurut Kant, untuk dapat terealisasinya tindakan dari kemauan yang baik, kemauan ---perlu dihubungkan dengan sesuatu hal yang baik. Kemauan perlu dihubungkan melalui perasaan kewajiban. Jadi, ada kemauan yang baik, disertai dengan perasaan kewajiban menjalankan sesuatu tindakan, maka terwujudlah tindakan yang baik. Perbuatan manusia harus berdasarkan prinsip kerohanianyang tinggi, bukan berdasarkan pada causalitas verbal yang tampak. Perbuatan yang baik berdasarkan atas kemauan sendiri, rasa wajib, bukan karena anjuran orang atau menginginkan pujian orang. Jadi, faktor yang mempengaruhi perbuatan manusia adalah kemauan, rasa kewajiban dan tujuan. 30. Kustomisme Kustomisme merupakan pandangan hidup yang terlalu berpegang pada adat, sesuai dengan kata Inggrisnya, custom. Orang-orang yang menganut paham ini disebut kustomistis. Menurut pendirian kustomistis, perbuatan yang baik adalah perbuatan yang sesuai dengan adat. Perangkat untuk menilai perilaku ada pada adat. Orang yang baik adalah orang yang dalam hidupnya berperilaku sebagaimana ditetapkan oleh adat. Adat merupakan pedoman dan pegangan hidup dalam masyarakat, dalam hidup pribadi, dalam kerja, dalam pergaulan antara warga, dan dalam menghadapi segala persoalan dan permasalahan dalam hidup. Singkatnya, kustomisme adalah pandangan dan sikap hidup yang menjunjung tinggi adat dan menggunakannya sebagai pegangan, pedoman dan pengarahan hidupdalam segala perilaku, tindakan dan perbuatan. Setiap masyarakat, bangsa, negara memiliki adat tersendiri. Adat berupa perilaku, tindakan, perbuatan yang biasa diambil sewaktu menanggapi peristiwa, hubungan antar manusia dan situasi hidup. Adat merupakan pengendapan atau kristalisasi segala nilai yang ada dalam masyarakat, bangsa, negara. Di dalamnya tercakup nilai-nilai tradisional, etis, moral, keagamaan. Dalam kerangka hidup masyarakat, bangsa dan negara, adat merupakan wadah yang menampung nilai-nilai masyarakat dan sekaligus wahana untuk meneruskan nilai-nilai itu dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. 31. Konsekuensilisme Konsep konsekuensialisme dapat dikatakan sebagai salah satu teori etika yang bercorak teleologis. Artinya, teori tersebut menaruh perhatian pada kesesuaian dari perbuatan-perbuatan dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai pelaku dan dengan nilai-nilai yang diinginkannya. Kriteria kebenaran moral suatu perbuatan harus diambil berdasarkan pertimbangan tentang kebaikan-kebaikan non-moral atau pra-moral yang harus dicapai serta nilai-nilai non-moral atau pra-moral yang sesuai dan harus dihormati. Menurut Konsekuensialisme, kriteria kebenaran moral suatu tindakan tertentu ditentukan semata-mata berdasarkan perhitungan konsekuensi-konsekuensi yang sudah dapat dilihat sebelumnya dari tindakan tersebut. Artinya, orang harus atau tidak harus melakukan suatu tindakan bergantung pada konsekuensi-konsekuensi tindakan tersebut. Jika konsekuensi-konsekuensi dalam keseluruhan tindakan itu buruk, tindakan tersebut tidak harus dilakukan. Jika konsekuensi-konsekuensi tindakan itu baik, tindakan itu harus atau setidaknya boleh dilakukan. Dengan kata lain, perhitungan konsekuensi suatu tindakan sangat menentukan dalam penilaian moral tindakan tersebut. 32. Laksisme Laksisme berasal dari akar kata Latin laxus, yang berarti longgar, tidak ketat, kendor, bebas. Berdasarkan asal katanya tersebut, maka laksisme merupakan pendirian yang menyimpang dalam pelaksanaan norma, kaidah, atau peraturan etis. Menurut macamnya, ada laksisme lunak dan laksisme keras. Sebagai aliran lunak, laksisme berpendirian bahwa prinsip dan norma etis itu ada dan harus dilaksanakan. Namun demikian, cara pelaksanaannya tidak dipaksakan, melainkan hanya sedapat, semampu, dan sesampainya saja. Sebagai aliran keras, laksisme berpendapat bahwa berbuat apapun tidak berdosa, asal belum ada kesepakatan tentang prinsip dan norma untuk menetapkan baik jahatnya perbuatan itu. Laksisme sendiri memiliki beberapa jenis. Laksisme lunak tidak mempersoalkan prinsip-prinsip dan norma etis. Prinsip etis harus dipegang, norma harus ditaati. Namun demikian, setia berppegang dan menaati prinsip dan norma etis itu tidak tanpa tuntutan dan pengorbanan. Sebagai contoh, laksisme lunak mengakui dan menerima prinsip dan norma, korupsi itu dilarang. Namun, pada kenyataannya penganut paham ini akan membolehkan asal tak ketahuan dan jumlahnya tidak keterlaluan. Bolehlah sedikit bermain-main, asal dapat ditutup-tutupi dan teman-teman juga kebagian. Pada intinya, segala sesuatu diperbolehkan asal tidak merugikan kelluarga, tidak terlalu mencolok, tahu batas, dan yang penting lagi tidak diketahui umum. 33. Liberalisme Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. 34. Moralisme Moralisme adalah suatu ajaran yang menggambarkan bahwa anda dapat diterima (oleh Allah, dunia, orang lain, diri anda sendiri) karena anda layak untuk diterima (Seorang penganut moralisme tidak harus beragama, tetapi seringkali mereka beragama juga). 35. Nihilisme Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. 36. Optimisme Optimisme merupakan sikap yang dapat memberi semangat pada diri sendiri atau pada orang lain. Menjadi seseorang yang optimis dan berpandangan positif dalam hidup dapat meningkatkan nilai kehidupan. Menjadi optimis bukan berarti menunggu hal-hal untuk terjadi dengan sendirinya dan bukan juga dengan mengharapkan sesuatu yang baik akan jatuh ke tangan kita tanpa melakukan apa-apa. Namun ini berarti percaya bahwa yang terbaik akan terjadi, dan pada saat yang sama membuat keputusan, melakukan tindakan sesuai dengan keputusan yang diambil dan mewujudkannya. Ini merupakan proses yang membangun kepercayaan diri sendiri untuk meraih mimpi-mimpi. 37. Otomatisme Otomatisme adalah suatu tehknik penciptaan kreatif yang menempatkan diri pada ledakan bawah sadar yang didasarkan pada kesadaran. Dalam Otomatisme, segala hal dalam kesadaran direnggut dan diledakkan oleh bawah sadar untuk kemudian dikembalikan lagi pada kesadaran. 38. Otoritarianisme Istilah otoritarianisme berasal dari bahasa Inggris, authoritarian. Kata authoritarian sendiri berasal dari bahasa Inggris authority, yang sebetulnya merupakan turunan dari kata Latin auctoritas. Kata ini berarti pengaruh, kuasa, wibawa, otoritas. Oleh otoritas itu, orang dapat memengaruhi pendapat, pemikiran, gagasan, dan perilaku orang, baik secara perorangan maupun kelompok. Otoritarianisme adalah paham atau pendirian yang berpegang pada otoritas, kekuasaan dan kewibawaan, yang meliputi cara hidup dan bertindak. Otoritarianisme adalah bentuk organisasi sosial yang ditandai dengan penyerahan kekuasaan. Ini kontras dengan individualisme dan demokrasi. Dalam politik, suatu pemerintahan otoriter adalah satu di mana kekuasaan politik terkonsentrasi pada suatu pemimpin. Otoritarianisme biasa disebut juga sebagai paham politik otoriter, yaitu bentuk pemerintahan yang bercirikan penekanan kekuasaan hanya pada negara atau pribadi tertentu, tanpa melihat derajat kebebasan individu. 39. Perfeksionisme Perfeksionisme adalah keyakinan bahwa seseorang harus menjadi sempurna, mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non-materi. Perfeksionis adalah orang yang memiliki pandangan perfeksionisme. Pada bentuknya sebagai penyakit, perfeksionisme dapat menyebabkan seseorang memiliki perhatian berlebih terhadap detil suatu hal dan bersifat obsesif-kompulsif , sensitif terhadap kritik, cemas berkepanjangan, keras kepala, berpikir sempit dan suka menunda. Hal-hal yang dapat menghambat keberhasilan dalam hal apapun. Orang yang potensial namun perfeksionis akan terhambat kemampuannya. Hasrat menciptakan produk, website atau konten terbaik adalah hal yang perlu, namun seorang perfeksionis akan menemukan banyak rintangan yang sama sekali tidak perlu. Masalah perfeksionis adalah tindakannya yang cenderung suka menunda-nunda dan akhirnya capek sendiri. Obsesinya akan kesempurnaan menjadi beban pikiran dan meletihkan perasaannya. Orang perfeksionis akan cepat kehabisan energi karena terus cemas tentang bagaimana menyempurnakan website-nya atau berpikir seandainya dulu saya begini atau begitu. 40. Permisivisme Permisivisme merupakan paham yang berasal dari sekulerisme yang memiliki pengertian bahwa dalam kehidupan diperbolehkan mendapatkan segala sesuatu berdasarkan "apa yang bisa dan tidak bisa". 41. Pragmatisme Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupa¬kan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Istilah Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani “ Pragma” yang berarti perbuatan ( action) atau tindakan (practice). Isme sendiri berarti ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikran itu menuruti tindakan. 42. Prekskriptivisme Preskriptivisme adalah pandangan etis yang menyatakan bahwa etika tidak terbatas pada arti deskriptif atau penguraiannya saja, melainkan mencakup juga arti preskriptif. Preskriptif berasal dari kata dalam bahasa Latin prescribere yang artinya menyuruh, memerintah, menulis sebelumnya. Para preskriptivis cenderung didapati di kalangan pendidik bahasa dan wartawan, dan bukannya dalam lingkungan ahli linguistik akademik pada dirinya. Mereka mempunyai tanggapan-tanggapan yang jelas tentang apa yang betul dan apa yang salah, dan mungkin mempertanggungjawabkan diri untuk memastikan bahawa generasi yang berikut akan menggunakan jenis bahasa yang paling mungkin akan menyebabkan "kejayaan"; jenis bahasa itu seringnya merupakan akrolek sesuatu bahasa yang tertentu. 43. Pesimisme Pesimisme adalah paham yang menganggap bahwa segala sesuatu yang ada pada dasarnya adalah buruk atau jahat. Kata pesimisme berasal dari bahasa Latin pessimus yang artinya terburuk. Penganut paham ini akan melihat bahwa hidup selalu berisi kejahatan, sekalipun secara nyata selalu ada kebaikan dan kejahatan. Dengan demikian, gambaran hidup yang ditampilkan adalah suram dan tiada harapan. Perasaan sedih, kemurungan, putus asa, absurditas, sakit, dan kematian, dipandang sebagai bersifat dasariah. Salah seorang filsuf yang memegang paham ini adalah Schopenhauer. Ada beberapa jenis pesimisme: 1. Pesimisme kultural, yang memandang bahwa pada akhirnya setiap kebudayaan akan hilang dan hal itu tak dapat terhindari. Pemikiran dari Troeltsch dapat dikategorikan ke dalam jenis ini. 2. Pesimisme tragis, yang merupakan sikap yang mencoba mengafirmasi dunia dan kehidupan sekalipun segala sesuatu tak berarti. Pandangan ini misalnya dikemukakan oleh Nietzsche. 44. Realisme Realisme adalah aliran filsafat yang memandang realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani. Hal ini berbeda dengan filsafat aliran idealisme yang bersifat monistis yang memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari aliran materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang bersifat fisik semata. Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya realita di luar manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. 45. Relativisme Relativisme berasal dari kata Latin, relativus, yang berarti nisbi atau relatif. Sejalan dengan arti katanya, secara umum relativisme berpendapat bahwa perbedaan manusia, budaya, etika, moral, agama, bukanlah perbedaan dalam hakikat, melainkan perbedaan karena faktor-faktor di luarnya. Sebagai paham dan pandangan etis, relativisme berpendapat bahwa yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah tergantung pada masing-masing orang dan budaya masyarakatnya. 46. Sensasionisme Akar kata sensation, yakni “sense”, sebenarnya sudah cukup menggambarkan apa yang disebut berita sensasi, yaitu berita yang isinya dan terutama cara mengemukakannya bertujuan untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan dan emosi manusia. Dengan demikian, berita sensasional harus hebat, memberikan keheranan, kekaguman, ketakjuban, atau kengerian. Pendeknya, harus dapat meluapkan berbagai macam perasaan. 47. Sosialisme Aliran sosialisme berpendapat bahwa masyarakat yang menentukan baik-buruknya tindakan manusia yang menjadi anggotanya. Lebih jelas lagi, apa yang lazim dianggap baik oleh masyarakat tertentu, itu baiklah. Aliran sosialisme ini banyak mengandung kebenaran, hanya secara ilmiah kurang memuaskan karena tidak umum. Kerap kali suatu adat kebiasaan dalam satu masyarakat dianggap baik, sedangkan dalam dan barat, bahkan antara suku-suku di tanah air kita, tidak mengatakan adat-istiadat mana yang baik atau yang tidak baik. Penegasan bahwa adat-istiadat sukar dijadikan ukuran umum, karena tidak umumnya itu. 48. Tradisionalisme Tradisionalisme adalah ajaran yang mementingkan tradisi yang diterima dari generasi-generasi sebelumnya sebagai pegangan hidup. Tradisi dapat berasal dari praktek hidup yang sudah berjalan lama, ini disebut tradisi kultural. Dapat pula berasal dari keyakinan keagamaan yang berpangkal pada wahyu, ini disebut tradisi keagamaan. Tradisionalisme berasal dari kata Latin, tradere yang artinya menyerahkan, memberikan, meninggalkan. Dari kata ini terbentuk kata benda traditio yang berarti penyerahan, pemberian, peninggalan, warisan tradisi. Kata traditio inilah yang menjadi asal istilah tradisionalisme. 49. Taoisme Taoisme adalah sebuah aliran filsafat yang berasal dari Cina. Taoisme (Tionghoa: atau ) juga dikenal dengan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi (pinyin:Lǎozǐ) sejak akhir Zaman Chunqiu yang hidup pada 604-517 sM atau abad ke-6 sebelum Masehi. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berdasarkan Daode Jing (pinyin:Dàodé Jīng). Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul Zhuangzi. Selain aliran filsafat, Taoisme juga muncul dalam bentuk agama rakyat, yang mulai berkembang 2 abad setelah perkembangan filsafat Taoisme. Tokoh sentral dari Taoisme adalah Lao Tzu. 50. Teologi / Religiosisme Aliran ini berpendapat bahwa yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia didasarkan atas ajaran tuhan. Perbuatan itu diperintahkan atau dilarang olehNya. Segala perbuatan yang diperintahkan Tuhan itulah yang baik dan segala perbuatan yang dilarang Tuhan itulah perbuatan buruk. Perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan instruksi Tuhan dan perbuatan yang tidak baik adalah yang berlawanan dengan instruksi Tuhan. Masing-masing agama mempunyai kategori baik dan buruk sendiri-sendiri dan dapat pula aliran-aliran sesuatu agama berlainan dalam ukuran baik dan buruk. Perbedaan itu disebabkan berlainan pendapat dalam menginterprestasi dalil-dalil agama. Dosa berlaku dalam amal dan bukan di dalam fitrah kejadian manusia, demikian menurut islam. Menurut Kristen, dosa berlaku di dalam amal dan di dalam fitrah kejadian manusia sebagai dosa waris. Dosa waris ini telah ditebus oleh Yesus Kristus dan manusia wajib mengikuti ajaran Yesus sebagai juru selamat. 51. Utiliarianisme Utilitarianisme adalah sebuah teori yang diusulkan oleh David Hume untuk menjawab moralitas yang saat itu mulai diterpa badai keraguan yang besar, tetapi pada saat yang sama masih tetap sangat terpaku pada aturan-aturan ketat moralitas yang tidak mencerminkan perubahan-perubahan radikal di zamannya. 52. Universalisme Universalisme adalah posisi meta-etika bahwa beberapa sistem etika, atau sebuah etika universal, berlaku secara universal, tanpa memandang budaya, ras, seks, agama, kebangsaan, orientasi seks, atau faktor pembeda lainnya. Sikap manusia yang satu terhadap manusia yang lain bermacam-macam. Ada yang indiferentistis alias acuh tak acuh. Ada yang diskriminatif, membeda-bedakan orang atas dasar status dan jabatan sosial, kekayaan, warna kulit, ras, dan agama. Ada yang partikularistis, memandang diri istimewa, khusus, dibanding dengan manusia lain, cenderung superioristis, menganggap diri lebih tinggi dari manusia lain. Namun demikian, ada juga yang universalistis, memandang semua orang sama martabat dan kedudukannya. Dari sinilah lahir paham universalistis, universalisme. Dalam bahasa Latin ditemukan kata universum yang berarti "alam semesta dunia". Dari kata itu, dibentuk kata sifatnya, yaitu "universalis", yang artinya umum, mencakup semua, menyeluruh.Dalam bahasa Inggris, kata Latin universalis menjadi universal. Kata ini dapat berarti konsep umum yang dapat diterapkan pada sisi mana pun. Dari kata universalis dan universal itulah istilah universalisme berasal. 53. Verbalisme Verbalisme berasal dari kata Latin, verbum yang berarti perkataan atau ucapan. Verbalisme dapat sekadar berarti sebagai ungkapan verbal (verbal expression), entah istilah untuk menyebut sesuatu, atau pengungkapan lewat kata-kata untuk mengungkapkan gagasan dan menyatakan pengertian. Verbalisme juga dapat dipergunakan untuk menyebut tulisan atau uraian yang mempergunakan terlalu banyak kata, sedang isinya terlalu sedikit, tanpa isi atau terlalu sedikit, atau sama sekali tak menyentuh topik yang sedang dibicarakan, alias omong kosong. Akan tetapi, verbalisme juga merupakan pendirian. Verbalisme lalu menjadi sikap yang lebih menjunjung tinggi kata daripada kenyataan yang diungkapkan, istilah daripada permasalahan yang ada di belakangnya, dan rumusan daripada kebenaran yang dikandungnya. Dengan sikap itu, penganut verbalisme memperlakukan kata lebih penting daripada kenyataan yang diungkapkan. Secara umum verbalisme dapat menjadikan kata, ungkapan, ucapan, sebagai hal atau entitas yang berdiri sendiri. Dalam dan dengan anggapan itu, orang sudah dianggap baik, loyal, terhormat, hanya karena kata-katanya yang bernada sedap, mendukung dan menyanjung, tanpa menyelidiki bagaimana perilaku yang sesungguhnya. Sebaliknya orang seringkali dianggap jahat dan pengacau, hanya karena ucapan-ucapannya yang terus terang, berbeda dengan yang lazim dan kritis, meskipun perbuatan nyatanya sungguh membawa kebaikan bagi banyak orang. 54. Voluntarisme Voluntarisme adalah modal sosial yang sangat berharga yang harus terus dipupuk di dalam masyarakat. Modal sosial suatu masyarakat berakar pada kohesi sosial dan keinginan untuk melakukan tindakan atau investasi sosial bagi komunitasnya. Istilah ini berasal dari bahasa Latin voluntas yang artinya 'kehendak'. F. Toennies adalah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ini pada tahun 1883. Ketika itu, Tonnies sedang melakukan kajian atas pemikiran Spinoza. Menurutnya, voluntarisme bertolak belakang dengan rasionalisme yang sedang berkembang saat itu 55. Zelotisme Zelotisme berasal dari akar kata Yunani, zelos yang berarti hasrat, keinginan, minat besar untuk meraih, mencapai, mendapatkan, atau merebut sesuatu. Zelos berkembang menjadi zelotes, yang berarti orang yang memiliki hasrat, keinginan, minat besar untuk meraih dan mencapai sesuatu. Ada berbagai hal yang mau dicapai, sesuai dengan isi hasrat, keinginan, dan minat orang yang mau mencapainya. Karena itu, bentuknya dapat terbentang mulai dari hal yang memenuhi kebutuhan tingkat pertama sampai kebutuhan tingkat kelima, menurut hierarkhi kebutuhan Abraham Maslow: dari soal makan, minum, seks, sampai realisasi dan pengembangan diri. Dari kata zelotes, berkembanglah istilah zelotisme, yang berarti aliran, paham, pendirian, atau keyakinan yang mendasarkan diri pada hasrat, keinginan, minat besar untuk mencapai sesuatu. BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Ada banyak aliran-aliran dalam etika dan setiap aliran-aliran (isme-isme) tersebut memiliki pandangan masing-masing. Ada yang sama dan ada pula ketiksamaan dalam aliran-aliran (isme-isme) tersebut. Beberapa isme tersebut yaitu sebagai berikut: Aksiologisme, Altruisme, Anarkisme, Anomianisme, Autentisisme, Autisme, Behaviorisme, Deontologisme, Desisionisme, Deskriptivisme, Determinisme, Developmentalisme, Dilentantisme, Eudemonisme, Egoisme, Eksistensialisme, Emosionisme, Emotivisme, Entusiasme, Environmentalisme, Epiekianisme, Epikurianisme, Empirisme, Formalisme, Hedonisme, Humanisme, Intuisionisme, Individualisme, Idealisme, Kustomisme, Konsekuensilisme, Laksisme, Liberalisme, Moralisme, Nihilisme, Optimisme, Otomatisme, Otoritarianisme, Perfeksionisme, Permisivisme, Pragmatisme, Prekskriptivisme, Pesimisme, Realisme, Relativisme, Sensasionisme, Sosialisme, Tradisionalisme, Taoisme, Teologi / Religiosisme, Utiliarianisme, Universalisme, Verbalisme, Voluntaris, Zelotisme. 2. Saran-Saran Adapun sarn yang dapat penuis uraikan yaitu: 1. Agar lebih memperbanyak referensi yang dimiliki. 2. Pahami apa yang telah pembaca baca. 3. Dan lebih sering berdiskusi dengan teman-teman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar